Kamis, 09 September 2010

Andai Kau Tau Inginku...

andai kau tau inginku….
bersujud bersamamu
disetiap lima waktu
mengabdi……..
menyerahkan diri pada Ilahi

andai kau tau inginku…..
berbisik mesra ditelingamu
disetiap ujung malam
memintamu….
menemaniku ambil wudhu

andai kau tau inginku….
berjalan berpegangan tangan
dengan senyum mengembang
beriringan…..
menuju syurga bersamamu

agar kau tau inginku…..
ku ingin selalu hidup bersamamu

selamanya...


Blog arja
Blog arja

Minggu, 29 November 2009

Jangan berdo'a Sekehendak Hatimu

Blog arja

Jangan Putus Asa Dalam Berdo'a...

�Janganlah membuatmu putus asa dalam mengulang doa-doa, ketika Allah menunda ijabah doa itu�

Ibnu Athaillah as-Sakandari mengingatkan kepada kita semua agar kita tidak berputus asa dalam berdoa.Mengapa demikian? Karena nafsu manusia seringkali muncul ketika Allah menunda ijabah atau pengabulan doa-doa kita. Dalam kondisi demikian manusia seringkali berputus asa, dan merasa bahwa doanya tidak dikabulkan. Sikap putus asa itu disebabkan karena manusia merasa bahwa apa yang dijalankan melalui doanya itu, akan benar-benar memunculkan pengabulan dan Allah.Tanpa disadari bahwa ijabah itu adalah Hak Allah bukan hak hamba. Dalam situasi keputusasaan itulah hamba Allah cenderung mengabaikan munajatnya sehingga ia kehilangan hudlur (hadir) bersama Allah.

Dalam ulasannya terhadap wacana di atas, Syekh Zaruq menegaskan, bahwa tipikal manusia dalam konteks berdoa ini ada tiga hal:

Pertama, seseorang menuju kepada Tuhannya dengan kepasrahan total, sehingga ia meraih ridha-Nya. Hamba ini senantiasa bergantung dengan-Nya, baik doa itu dikabulkan seketika maupun ditunda. la tidak peduli apakah doa itu akan dikabulkan dalam waktu yang panjang atau lainnya.

Kedua, seseorang tegak di depan pintu-Nya dengan harapan penuh pada janji-Nya dan memandang aturan-Nya. Hamba ini masih kembali pada dirinya sendiri dengan pandangan yang teledor dan syarat-syarat yang tidak terpenuhi, sehingga mengarah pada keputusasaan dalam satu waktu, namun kadang-kadang penuh harapan optimis. Walaupun hasratnya sangat ringan, toh syariatnya menjadi besar dalam hatinya.

Ketiga, seseorang yang berdiri tegak di pintu Allah namun disertai dengan sejumlah cacat jiwa dan kealpaan, dengan hanya menginginkan keinginannya belaka tanpa mengikuti aturan dan hikmah. Orang ini sangat dekat dengan keputusasaan, kadang-kadang terjebak dalam keragu-raguan, kadang-kadang terlempar dijurang kebimbangan. Semoga Allah mengampuninya.

Syekh Abu Muhammad Abdul Aziz al-Mahdawi mengatakan, �Siapa pun yang tidak menyerahkan pilihannya dengan suka rela kepada Allah Ta'ala, maka orang tersebut terkena istidraj (sanjungan yang terhinakan). Orang tersebut termasuk golongan mereka yang disebut oleh Allah: �Penuhilah kebutuhannya, karena Aku benci mendengarkan keluhannya.� Tetapijika seseorang memasrahkan pada pilihan Allah, bukan pilihan dirinya, maka otomatis doanya telah terkabul, walaupun beium terwujud bentuknya. Sebab amal itu sangat tergantung pada saat akhirnya. �

Wacana di atas dilanjutkan:

�Allahlah yang menjamin ijabah doa itu menurut pilihan-Nya padamu, bukan menurut pilihan seleramu, kelak pada waktu yang dikehendaki-Nya, bukan menurut waktu yang engkau kehen-daki.�

Seluruh doa hamba pasti dijamin pengabulannya. Sebagaimana dalam firman Allah :
�Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan bagimu. �

Allah menjamin pengabulan itu melalui janji-Nya. Janji itu jelas bersifat mutlak. Hanya saja dalam ayat tersebut Allah tidak menfirmankan dengan kata-kata, �menurut tuntutanmu, atau menurut waktu yang engkau kehendaki, atau menurut kehendakmu itu sendiri.�

Dalam hadits Rasutullah SAW bersabda: �Tak seorang pun pendoa, melainkan ia berada di antara salah satu dari tiga kelompok ini: Kadang ia dipercepat sesuai dengan permintaannya, atau ditunda (pengka-bulannya) demi pahalanya, atau ia dihindarkan dari keburukan yang menimpanya.� (HR. Imam Ahmad dan AI-Hakim).

Dalam hadits lain disebutkan, �Doa di antara kalian bakal di ijabahi, sepanjang kalian tidak tergesa-gesa, (sampai akhirnya) seseorang mengatakan, �Aku telah berdoa, tapi tidak diijabahi untukku. � (HR. Bukhari-Muslim)

Dalam menafsiri suatu ayat �Telah benar-benar doa kalan berdua di ijabahi� maksudnva baru 40 tahun diijabahi doanya. Menurut Syekh Abul Hasan asy-Syadzili, perihal firman Allah: �Maka hendaknya kalian berdua istiqamah�, maksudnya adalah �tidak tergesa-gesa�. Sedangkan ayat, �Dan janganlah kalian mengikuti jalannya orang-orang yang tidak mengetahui�, maksudnya adalah orang-orang yang menginginkan agar disegerakan ijabah doanya. Bahwa ijabah doa itu diorientasikan pada pilihan Allah, baik dalam bentuk yang riil ataupun waktunya, semata karena tiga hal:

Pertama, karena kasih sayang dan pertolongan Allah pada hamba-Nya. Sebab Allah Maha Murah, Maha Asih dan Maha Mengetahui. Dzat Yang Maha Murah apabila dimohon oleh orang yang memuliakan-Nya, ia akan diberi sesuatu yang lebih utama menurut Kemahatahuan-Nya. Sementara seorang hamba itu pada dasarnya bodoh terhadap mana yang baik dan yang lebih bermashlahat. Terkadang seorang hamba itu mencintai sesuatu padahal sesuatu itu buruk baginya, dan terkadang ia membenci sesuatu padahal yang dibenci itu lebih baik baginya. Inilah yang seharusnya difahami pendoa.

Kedua, bahwa sikap tergantung pada pilihan Allah itu merupakan sikap yang bisa mengabadikan hukum-hukum ubudiyah, di samping lebih mengakolikan wilayah rububiyah. Sebab manakala suatu ijabah doa itu tergantung pada selera hamba dengan segala jaminannya, niscaya doa itu sendiri lebih mengatur Allah. Dan hal demikian suatu tindakan yang salah.

Ketiga, doa itu sendiri adalah ubudiyah. Rahasia doa adalah menunjukkan betapa seorang hamba itu serba kekurangan. Kalau saja ijabah doa itu menurut keinginan pendoanya secara mutlak, tentu bentuk serba kurang itu tidak benar. Dengan demikian pula, rahasia taklif (kewajiban ubudiyah) menjadi keliru, padahal arti dari doa adalah adanya rahasia taklij'itu sendiri. Oleh sebab itu, lbnu Athaillah as-Sakandari menyatakan pada wacana selanjutnya:

�Janganlah membuat dirimu ragu pada janji Allah atas tidak terwujudnya sesuatu yang dijanjikan Allah, walaupun waktunya benar-benar nyata.�

Maksudnya, kita tidak boleh ragu pada janji Allah. Terkadang Allah memperlihatkan kepada kita akan terjadinya sesuatu yang kita inginkan dan pada waktu yang ditentukan. Namun tiba-tiba tidak muncul buktinya. Kenyataan seperti itu jangan sampai membuat kita ragu-ragu kepada janji Allah itu sendiri. Allah mempunyai maksud tersendiri dibalik semua itu, yaitu melanggengkan rububiyah atas ubudiyah hamba-Nya. Syarat-syarat ijabah atasjanji-Nya, terkadang tidak terpenuhi oleh hamba-Nya. Karena itu Allah pun pernah menjanjikan pertolongan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW dalam perang Uhud dan Ahzab serta memenangkan kota Mekkah. Tetapi Allah menutupi syarat-syarat meraih pertolongan itu, yaitu syarat adanya sikap �merasa hina� di hadapan Allah yang bisa menjadi limpahan pertolongan itu sendiri. Sebab Allah berfirnian dalam At-Taubah: �Allah benar-benar menolongmu pada Perang Badar, ketika kamu sekalian merasa hina �.

Kenapa demikian? Sebab sikap meragukan janji Allah itu bisa mengaburkan pandangan hati kita terhadap karunia Allah sendiri. As-Sakandari meneruskan:

�Agar sikap demikian tidak mengaburkan mata hatimu dan meredupkan cahaya rahasia batinmu�.

Bahwa disebut di sana padanya pengaburan mata hati dan peredupan cahaya rahasia batin, karena sikap skeptis terhadap Allah itu, akan menghilangkan tujuan utama dan keleluasaan pandangan pengetahuan dibalik janji Allah itu.

Jangan Putus Asa

Blog arja

Agar Tidak Putus Asa

Putus asa akan menghampiri kita saat kita menempuh perjalanan yang panjang atau mendapatkan kegagalan dari perjalanan-perjalan yang kita tempuh. Bagaimana agar kita tidak putus asa?

Mari kita ibaratkan perjalanan panjang seperti lari marathon. Anda pernah marathon? Yang kita rasakan pada saat kita sedang berlari dalam jarak yang jauh ialah keinginan segera berhenti, minum, dan beristirahat. Lalu mengapa tidak berhenti? Jika Anda berlari atas inisiatif sendiri, kemungkinan Anda berhenti akan lebih besar ketimbang seorang atlit yang sedang berlomba. Mengapa? Karena imbalan yang akan didapat lebih menarik dan lebih jelas. Kalau dia tidak sampai, bukan hanya tidak akan mendapatkan juara, tetapi juga malu. Jadi agar Anda tidak putus asa, maka Anda harus memiliki tujuan yang sangat menggairahkan Anda dan jelas.

Mungkin saja, saat kita berlari, kita tidak ingin untuk berhenti. Tetapi akhirnya berhenti juga karena kita sangat kelelahan. Dengan kata lain energi kita sudah terkuras habis. Seorang atlit tidak akan mudah kelelahan karena dia memiliki energi yang cukup. Energi yang tentu saja didapat dari latihan yang cukup dan makanan yang dikonsumsinya. Begitu juga jika kita tidak ingin cepat putus asa maka kita harus memiliki energi yang cukup. Baik energi dalam arti sebenarnya, maupun energi dalam arti motivasi.

Gagal lagi, gagal lagi, dan gagal lagi. Hal seperti ini pun akan memungkinkan kita putus asa. Anda telah mencoba, Anda telah bersabar, dan Anda telah berusaha, namun kegagalan dan kegagalan yang menemui Anda. Keadaan seperti ini bisa diibaratkan seperti sesorang yang sedang mencari suatu tempat tetapi tidak mengetahui harus lewat mana.

Jika jalan yang Anda ketahui sedikit, maka Anda akan cepat berhenti karena tidak ada jalan lagi yang bisa ditempuh. Tetapi jika Anda mengetahui banyak jalan, maka Anda mencoba jalan yang lainnya sampai menemukan jalan yang benar. Semakin banyak jalan yang Anda ketahui dan energi Anda masih cukup maka kemungkin untuk bergerak terus masih sangat memungkinkan.

Jalan yang dimaksud disini adalah ide. Saat Anda gagal dengan satu ide, maka Anda bisa mencoba ide yang lain. Ide tersebut bisa Anda dapatkan baik dari ide sendiri maupun ide dari orang lain. Agar bisa menghasilkan ide sendiri maka diperlukan kreativitas. Sementara untuk mengetahui ide dari orang lain, maka yang diperlukan adalah menuntut ilmu.

Kamis, 05 November 2009

CORETAN ARJA

Blog arja
Jum'at 6 November 2009

Untuk Kalian, Saudaraku!

Sosok da’I bukanlah orang sembarangan yang bias diorbit sebagaimana bisa mengorbitkan sarjana akademis. Da’I adalah sosok manusia yang memiliki seperangkat hiasan pribadi yang spesifik, memiliki sibghoh Islami dalam segala aspeknya. Berikut ini kita akan paparkan seputar perangkat-perangkat da’i sebagai sosok manusia yang spesifik.

(more…)

Gender: Setara, Sama, Adil?

Kamis, Februari 19th, 2009
Setiap tahun, tepatnya pada tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati kelahiran R.A. Kartini yang menjadi tokoh pelopor emansipasi wanita Indonesia. Dan tahun ini, hari istemewa itu telah berlalu. Adakah sesuatu yang kita dapat sejak hari itu? Adakah sesuatu yang kita dapat sejak pertama kali kita memperingati hari tersebut? Adakah sesuatu yang didapat oleh wanita Indonesia sejak bangsa ini pertama kali memperingati hari itu? Ya, wanita Indonesia memang masih perlu waktu dan usaha lebih banyak lagi untuk mencapai tujuannya. Namun, tahukah kamu, wahai wanita! Apa tujuannya. Jangan-jangan masih banyak yang sekadar ikut-ikutan. “Kami memperjuangkan persamaan gender antara wanita dan laki-laki,” atau “Kesetaraan gender adalah tujuan kami.” Kalau itu yang menjadi jawaban para wanita, terutama wanita muslim yang shalihah, sungguh, penulis menggelengkan kepala penuh heran dan kesedihan.
Selengkapnya

Barat Khawatir Indonesia Pimpin Kemajuan Islam

Kamis, Februari 19th, 2009
Indonesia dinilai memiliki potensi yang cukup baik untuk memimpin kemajuan dunia Islam, jika dilihat dari aspek sumber daya alam, letak yang strategis, manusia yang ulet, kultur kekeluargaan yang cukup tinggi, serta taat dalam menjalankan agama.Prof Dr H Muslim Nasution, MA, dosen pascasarjana UIN Jakarta mengemukakan hal itu pada dialog Membangun Masa Depan Islam Mewujudkan Harmonitas Umat di Bina Graha Pemprovsu Jalan P. Diponegoro Medan, Jumat (1/2). Nasution mengemukakan itu mengutip pernyataan Malik bin Nabi, seorang pemikir Islam asal Aljazair.
Kegiatan yang digelar MUI Sumut bekerjasama dengan Ormas Islam dalam rangka menyambut Tahun Baru 1429 Hijriyah dihadiri Kakanwil Depagsu Drs Syariful Mahya Bandar, MAP, Ketua PW Muhammadiyah Sumut Drs Dalail Ahmad, MA, Ketua Al Washliyah Sumut H Nizar Syarif, Rektor UMSU Bahdin Nur Tanjung, PR III UMSU Agus Sani. Sedang penceramah yang tampil Prof Dr Syahrin Harahap, MA (dosen Pascasarjana IAIN Sumut), Dr Haedar Nasir, MSc (PP Muhammadiyah) dan Dr Hasan Bakti Nasution, MA (Sekretaris MUI Sumut).Menurut Malik bin Nabi, kata Nasution, ada dua benua yang berpotensi memimpin kemajuan Islam dunia masa depan yakni Benua India, dan Negara Melayu atau Asia Tenggara seperti Melayu Malaysia, Thailand, Filipina, Brunai dan Indonesia. Namun, di antara keduanya, yang berpeluang itu adalah Indonesia mengingat jumlah muslim yang terbesar di Asia Tenggara adalah Indonesia.Harapan dunia terhadap Indonesia memimpin kemajuan Islam cukup besar dan selama ini keislaman di Indonesia cukup disegani oleh negara-negara Islam lainnya.Nasution menyatakan, negara Eropa dan Amerika Serikat mengkhawatirkan atas kebangkitan Islam di Indonesia, sehingga mereka menggunakan berbagai cara untuk menghancurkannya antara lain melakukan penjajahan seperti yang dilakukan Belanda dan menumbuhkan berbagai aliran sesat.Berkaitan hal itu negara Eropa dan Amerika senantiasa mengawal kepemimpinan negara-negara OKI jangan sampai jatuh ke Indonesia sebagai orang pertama. Sebab, jika sampai dipegang Indonesia apa yang dikhawatirkan negara-negara itu akan menjadikan kenyataan dan tekanan akan semakin keras terhadap Indonesia.
Selengkapnya

Menuntut Ilmu dalam Islam

Selasa, Februari 17th, 2009

“Ketahuilah bahwa tidak ada di antara kalian satu pun yang dilahirkan dalam keadaan berilmu. Dan sesungguhnya ilmu itu diperoleh dengan jalan belajar. Maka jadikanlah dirimu sebagai orang yang ahli ilmu, atau orang yang menuntutnya, atau orang yang mendengarkannya. Belajarlah kalian karena sesungguhnya kalian tidak tahu kapan ilmu itu dibutuhkan,” kata Ibnu Mas’ud.

Adab Menuntu Ilmu

Berikut adab-adab menuntut ilmu yang bersumber dari kitab al-Manhaj as-Sawi karya al-Allamah al-Habib Zein ibn Ibrahim ibn Semith.

  1. Ikhlas karena Allah swt

    Imam Nawai menulis di dalam muqaddimah kitab Syarh al-Muhadzdzab, “Semestinya seorang pelajar membersihkan hati dari kotoran agar layak menerima ilmu dan menghafalnya dan mendapatkan buahnya.”

    Selengkapnya

Hukum Nun Mati (نْ) atau Tanwin ( ً ٍ ٌ)

Selasa, Februari 17th, 2009
  1. Idzhar (jelas atau tampak); adalah menyatakan bacaan nun mati (نْ) atau tanwin ( ً ٍ ٌ) dengan jelas. Huruf idzhar ada 6 disebut huruf halqi yaitu غ خ ح ع ﻫ أ
  2. Idgham (memasukkan); adalah memasukkan nun mati (نْ) atau tanwin ( ً ٍ ٌ) ke dalam huruf sesudahnya yaitu huruf-huruf idgham.
    • Idgham bighunnah (memasukkan dengan dengung); dengan ditahan selama satu alif atau dua harakat. Huruf-huruf idgham bighunnah adalah ي م ن و
    • Idgham bilaghunnah (memasukkan tanpa dengung); tanpa ditahan. Huruf-huruf idgham bilaghunnah adalah ر ل

    Catatan: Bila nun mati (نْ) atau tanwin ( ً ٍ ٌ) bertemu dengan huruf-huruf idgham pada kata yang berbeda maka harus dibaca idzhar

    Selengkapnya

Hukum Mad

Selasa, Februari 17th, 2009

Mad artinya memanjangkan suara suatu bacaan.

  1. Mad Ashly (asal)/ Thabi’y; terjadi apabila:
    1. Huruf berbaris fathah (ً ) bertemu dengan alif (ا)
    2. Huruf berbaris kasrah (ٍ ) bertemu dengan ya mati (يْ)
    3. Huruf berbaris dhammah (ٌ ) bertemu dengan wau mati (وْ)
  2. Selengkapnya

Rabu, 04 November 2009

Blog arja
Tidak Menyerah Pada Keterbatasan
Jessica Cox bisa mengemudi mobil, berenang, dan mengetik 25 kata per menit. Ia juga pemegang dua ban hitam Tae Kwon-Do (dari dua federasi) dan pintar menari. Ia bisa sekolah, lulus kuliah, dan menerbangkan pesawat. Ia mandiri, cantik, berprestasi, dan menjadi orang yang berguna. Jadi, apa yang tidak dimiliki perempuan muda ini? Dua lengan!
Jessica adalah warga negara Amerika Serikat keturunan Filipina. Usianya 25 tahun. Ia tinggal di Tucson, Arizona.

Untuk diketahui, Jessica dilahirkan tanpa lengan. Orangtuanya tentu terkejut dan sedih dengan keadaannya. Namun mereka tidak putus asa. Mereka bisa menerima keadaan itu dan mengajari anak perempuannya hidup mandiri. Kedua kaki Jessica diajari melakukan banyak hal, antara lain untuk menggantikan fungsi kedua lengannya.

Bagaimana dengan Jessica? Awalnya, ia merasa malu, takut, dan tidak percaya diri. Sebab, keadaan fisiknya berbeda dengan orang lain. Untunglah, ia memiliki keluarga, teman-teman, dan guru yang luar biasa. Mereka menerima keadaannya dan mendukungnya.

"Aku ingat saat pertama kali akan tampil di panggung untuk pertunjukan tari. Aku malu dan khawatir semuanya tidak akan berjalan lancar. Jadi, aku bilang ke guruku, ‘Tolong tempatkan aku di barisan paling belakang'. Guruku berkata, ‘Tidak ada barisan belakang!'" Pertunjukan itu sukses dan Jessica terpacu untuk menjadi seorang penari.

Seorang pilot pesawat tempur yang tergabung dalam aksi amal Wright Flight juga berjasa. Ia menawari Jessica, yang awalnya takut terbang dan ketinggian, untuk belajar menerbangkan pesawat padanya. Awalnya, Jessica menolak. Namun pilot itu terus memaksa dan bilang bahwa Jessica akan menyukai terbang dan berada di atas awan. Akhirnya Jessica menerima tawaran itu dan menganggapnya sebagai salah satu tantangan terbesar dalam hidupnya. Kini Jessica sudah mengantongi lisensi pilot.

Atas semua kesuksesannya yang luar biasa itu, Jessica berkata, "Banyak hal yang tidak bisa dilakukan oleh seorang penyandang cacat. Namun saya tidak pernah mengatakan, ‘Saya tidak bisa'. Jika belum sukses dalam melakukan suatu hal, saya selalu mengatakan, ‘Saya belum berusaha keras!' Saya juga berusaha beradaptasi dengan dunia yang memerlukan dua lengan ini".
Kini, apa target Jessica? "Masih ada banyak hal di daftar keinginan saya. Hmmm... saya ingin bisa mengepang rambut dan memanjat tebing!" Ia juga ingin mengajari banyak hal pada orang-orang yang senasib dengannya. Mereka mungkin merasa kurang percaya diri, namun Jessica selalu menyemangati mereka dengan berkata, "Sayalah bukti bahwa Anda juga bisa melakukan banyak hal!"




Sunday, December 28, 2008

Jessica Cox-Pictures